Refleksi Penanganan COVID-19: Kolonialisme dan Wabah di Negeri Jajahan

  • Share
32973553050484951546.large

oleh Imam Syafi’i, M.Hum


Wabah COVID-19 telah menyebar ke berbagai belahan dunia selama hampir enam bulan sejak pertama kali Tiongkok mengumumkan kasus pertamanya pada 31 Desember 2019. Bahkan, belakangan WHO menyebutkan bahwa kemunculan virus tersebut telah berlangsung lebih awal lagi, tepatnya di awal Desember 2019.[1] Lambatnya penyampaian informasi, jika tidak dikatakan sebagai upaya menutupi, baik di level domestik maupun internasional, pada akhirnya membuat banyak negara terlambat dalam mengantisipasi dan membangun mitigasi yang baik. Belum lagi banyak negara yang kemudian tidak menduga atau bahkan meremehkan penyebaran yang muncul belakangan, sehingga membuat mereka kewalahan, terlebih setelah menjadi pandemi.

Satu abad lalu, dunia memiliki pengalaman kolektif pandemi yang disebabkan oleh Flu Spanyol, menyebabkan kematian 50 hingga 100 juta manusia di seluruh wilayah dunia.[2] Penamaan Flu Spanyol sendiri disebabkan oleh keterbukaan Spanyol dalam melaporkan dampak virus di level domestik. Negara-negara lain, terutama yang terlibat perang, melakukan sensor semua hal yang terkait dengan tingkat keparahan akibat pandemi. Mereka beralasan, sensor dilakukan untuk menjaga moral pasukan dan tidak terlihat lemah di mata lawan.[3]

Perang Dunia I memang memiliki kontribusi yang utama dalam penyebaran awal virus ini.[4] Virus yang diduga kuat berasal dari kamp militer Amerika, menyebar pertama kali melalui mobilisasi tentara Amerika ke Eropa.[5] Kepulangan korps buruh Afrika dari Eropa, korps buruh Tiongkok, juga pasukan India di bawah panji Kerajaan Inggris menjadi penyebab pandemi terjadi di wilayah-wilayah yang lebih luas dengan korban yang tidak sedikit.[6] Jepang, Korea, dan Taiwan, yang saat itu di bawah kendali Jepang dan juga terlibat perang, mengalami hal sama, pandemi parah.[7]

Kolonialisme dan Wabah di Negeri Jajahan

Kolonialisme yang telah berlangsung lama dan diikuti oleh peningkatan mobilitas orang, baik untuk kepentingan militer maupun perdagangan, juga menjadi katalis ampuh penyebaran penyakit lintas batas,[8] termasuk penyebaran pandemi influenza. Ekspansi kegiatan industri dan perdagangan dari pusat-pusat kota kolonial telah merambah dan mengancam banyak wilayah pedesaan dan terpencil. Di Hindia Belanda pada waktu itu, Flu Spanyol pertama kali diketahui menyebar ke Jawa dan Kalimantan di akhir Juli 1918 melalui Pelabuhan Pankattan Sumatera Utara,[9] diduga dibawa oleh buruh kontrak dari Singapura yang akan bekerja di area perkebunan kolonial di Sumatera.[10]

Setidaknya terdapat dua gelombang penyebaran Flu Spanyol di Hindia Belanda. Pertama, virus menyebar ke Sumatera dari Malaysia serta ke Pulau Jawa dan bagian barat Kalimantan dari Singapura. Kedua, penyebaran flu telah meliputi wilayah-wilayah timur Hindia Belanda, yang pada fase pertama sangat minim terdampak.[11] Walker (2014) menyebutkan bahwa situasi pada fase ini lebih parah dari yang pertama disebabkan oleh aktivitas pulang kampung.[12] Meskipun, ia menyebutkan bahwa kegiatan pulang kampung sebagai sifat naluriah manusia menanggapi krisis. Apalagi pandemi saat itu cukup berdekatan dengan bulan Syawal 1918 (1336 H), bisa jadi motivasi untuk merayakan lebaran di kampung halaman telah menjadi sarana efektif penyebaran virus.

Dilihat dari jumlah korban, Chandra (2013) menyebutkan bahwa jumlah korban meninggal akibat Flu Spanyol, terutama di Jawa dan Madura mencapai 4,26-4,37 juta jiwa, sangat berbeda dengan estimasi dari Brown yang menyebut 1,5 juta jiwa untuk seluruh wilayah Hindia Belanda.[13] Angka yang besar ini didapat dengan menganalisa dan membandingkan banyak data statistik, meskipun dengan catatan bahwa kematian/turunnya populasi di satu wilayah bisa saja tidak hanya disebabkan oleh kematian akibat flu. Turunnya angka kelahiran, kematian akibat krisis pangan dan migrasi, sebenarnya juga sangat dipengaruhi oleh pandemi itu sendiri.[14]

Belajar dari masa lalu

Kita memiliki pengalaman historis yang panjang terkait dengan kejadian wabah di masa lalu. Keterhubungan kita dengan dunia luar sejak lama membawa kita mengenal berbagai penyakit epidemik yang melegenda seperti kolera, pes, dan influenza. Kolera yang pertama kali ditemukan pada dekade kedua abad ke-19 di Arab Saudi, mewabah ke Indonesia melalui aktivitas pengiriman jamaah haji dengan kapal.[15] Demikian halnya penyakit pes, disebabkan tikus yang terbawa oleh impor beras dari Myanmar;[16] dan influenza, sebagai konsekuensi dari peningkatan aktivitas perdagangan maritim Hindia Belanda dengan Eropa, [17] mewabah pada dekade awal abad ke-20.

Lantas bagaimana pemerintah kolonial menangani kejadian itu? Karena pengiriman jamaah haji dianggap berkontribusi besar terhadap penyebaran wabah kolera, Tagliacoozo (2014) menyebut pemerintah mengatur secara ketat pengiriman jamaah haji dengan memperhatikan kondisi kapal, cadangan obat, dan dokter selama pelayaran juga pada saat karantina.[18] Meskipun tidak ada catatan memadai mengenai penanganan secara umum, kolera telah membunuh 125 ribu orang di Jawa.[19] Sedangkan wabah pes, yang kemudian lebih dikenal dengan istilah pagebluk, pada awal kemunculannya sempat diremehkan oleh pemerintah kolonial dengan cenderung menutupi situasi sesungguhnya di lapangan.

Diskriminasi penanganan juga terjadi. Akses kesehatan awalnya hanya untuk orang-orang Eropa dan Cina dengan kemampuan finansial yang baik, sementara kelompok bumiputera adalah yang terakhir.[20] Pun kebijakan perbaikan kampung kumuh atau usaha vaksinasi hanya bertujuan untuk mempertahankan stabilitas wilayah jajahan.[21] Sementara itu, praktik karantina wilayah yang dilakukan semasa wabah Flu Spanyol, juga terasa diskriminatif. Liesbeth Hesselink menyebutkan karantina, salah satunya telah membatasi pelayaran kapal di Teluk Betung, masih memungkinkan orang-orang melakukan perjalanan dengan kewajiban karantina bertarif. Kebijakan ini menyebabkan banyak orang miskin, kebanyakan adalah kelompok pekerja, tidak mampu membayar sehingga mereka ditempatkan ke dalam gudang tidak layak di tengah pasar.[22]

Pandemi telah menyebabkan banyak korban berjatuhan. Pandemi yang seringkali diikuti oleh wabah kelaparan, baik karena gagal panen maupun beban yang diakibatkan oleh struktur ekonomi kolonial yang timpang, membuat tuntutan perluasan pelayanan yang demokratis oleh kelompok pendukung kemerdekaan semakin kuat.[23] Di satu sisi, keterbatasan kemampuan medis barat dalam menghadapi pandemi, pun praktiknya begitu diskriminatif, membuat sebagian besar orang memilih untuk pergi ke dukun atau membuat ramuan tradisional yang lebih mereka percaya.[24] Di sisi lain, inisiatif mandiri yang dilakukan di antara kelompok masyarakat dalam membangun sistem imun komunitas, memunculkan konflik rasial yang sudah tertanam lama. Tidak jarang, ekspresi agama atau kebudayaan kelompok dalam merespon situasi krisis akibat pandemi berujung pada kekerasan, meskipun dalam beberapa catatan sejarah masih ada insiatif positif seperti pengumpulan dana, menyebarkan informasi dan obat-obatan, dan bantuan lainnya.[25] Dalam konteks ini, pandemi telah membuka watak kolonialisme sesungguhnya. Kebijakan diskriminatif serta rasisme tidak hanya menunjukkan ketimpangan kesejahteraan dan mempertegas batas-batas etnisitas, namun juga menjadi upaya pemerintah kolonial mempertahankan status quo antara kelas penjajah dan yang dijajah.

Hari ini, suka atau tidak, kita adalah bagian dari warisan kolonial, namun tidak perlu mewarisi watak kolonial itu sendiri. Penanganan wabah pandemi COVID-19 hari ini tidak dapat mengabaikan pengalaman historis kita di masa lalu. Sudah semestinya berbagai aspek sejarah bangsa menjadi ingatan kolektif yang terus diwariskan. Berbasis ingatan kolektif ini, negara yang pada awalnya cenderung abai dan terlambat, perlu menjamin kebijakan penanganan, baik selama maupun pasca-pandemi, berbasis kesejahteraan semua warga negara tanpa diskriminasi dan tidak bias kelas. Akses kesehatan, stimulus ekonomi, jaring pengaman sosial, dan ketahanan pangan harus menyentuh semua orang secara berkeadilan. Tidak bisa tidak, pandemi ini adalah momen dimana kita bersama mengurangi ketimpangan sosial, menghilangkan prasangka kelas, etnis, maupun agama. Keterbukaan negara dan keterlibatan semua kelompok masyarakat adalah potensi kolaborasi yang ampuh, tidak hanya dalam membangun sistem imun kesehatan individu terhadap ganasnya virus ini, tetapi juga dalam membangun sistem imun kita sebagai komunitas negara-bangsa terhadap dampak pandemi di masa depan.


*Penulis adalah Peneliti di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan IKA PMII Komisariat Sunan Kalijaga Kota Malang

*artikel ini pertama terbit pada Rabu, 13 Mei 2020 di http://politik.lipi.go.id/kolom/kolom-2/politik-nasional/1395-refleksi-penanganan-covid-19-kolonialisme-dan-wabah-di-negeri-jajahan


[1]https://www.who.int/docs/default-source/coronaviruse/situation-reports/20200226-sitrep-37-covid-19.pdf?sfvrsn=2146841e_2 diakses pada Selasa, 5 Mei 2020.
[2]John M. Barry, “How the Horrific 1918 Flu Spread Across America” dalam https://www.smithsonianmag.com/history/journal-plague-year-180965222/ diakses pada Rabu, 6 Mei 2020.
[3]Aroon Kassraie, “ Spanish Flu: How America Fought a Pandemic a Century Ago” https://www.aarp.org/politics-society/history/info-2020/spanish-flu-pandemic.html#quest1 diakses pada Selasa, 5 Mei 2020.
[4]Jaime Breitnauer, The Spanish Flu Epidemic and its Influence on History (Yorkshire-Philadelphia: Pen and Sword history, 2019), hlm. 15.
[5]Max Roser, “The Spanish flu (1918-20): The global impact of the largest influenza pandemic in history” dalam https://ourworldindata.org/spanish-flu-largest-influenza-pandemic-in-history diakses pada Selasa, 5 Mei 2020.
[6]Jaime Breitnauer, op.cit., hlm. 71-72; 81 dan 98.
[7]Robert Farley, “Remembering the Spanish Flu in Asia” dalam https://www.japantimes.co.jp/opinion/2020/03/29/commentary/world-commentary/remembering-spanish-flu-asia/#.XrDf5agzbIV diakses pada Selasa, 5 Mei 2020
[8]Kirsty Walker, “The Influenza Pandemic of 1918 in Southeast Asia” dalam Tim Harper and Sunil S. Amrith (ed), Histories of Health in Southeast Asia Perspectives on the Long Twentieth Century (Bloomington & Indianapolis: Indiana University Press, 2014), hlm. 62.
[9] Kirsty Walker, op. cit., hlm. 64.
[10]Ravando, “Belajar Menangani Wabah Global dari Pandemi Flu Spanyol 1918 dalam https://bebas.kompas.id/baca/opini/2020/03/21/belajar-dari-pandemi-flu-spanyol-1918/ diakses pada Rabu, 6 Mei 2020 13.19.[11]Siddharth Chandra, “Mortality from the influenza pandemic of 1918–19 in Indonesia” dalam https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3687026/ diakses pada Rabu, 6 Mei 2020 13.46
[12]Kirsty Walker, op. cit., 64
[13]Siddharth Chandra, loc. cit
[14]Ibid
[15]Eric Tagliacozzo, “Pilgrim Ships and the Frontiers of Contagion: Quarantine Regimes from Southeast Asia to the Red Sea” dalam Tim Harper and Sunil S. Amrith (ed), Histories of Health in Southeast Asia Perspectives on the Long Twentieth Century (Bloomington & Indianapolis: Indiana University Press, 2014), hlm. 48 dan 51.
[16] Mahandis Yoanata Thamrin, “Karut-Marut Pagebluk Pes Pertama di Hindia Belanda dalam https://nationalgeographic.grid.id/read/132090830/karut-marut-pagebluk-pes-pertama-di-hindia-belanda?page=all diakses pada Rabu, 6 Mei 2020.
[17] Boomgaard, “The Development of Colonial Health Care in Java: An Exploratory Introduction” Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde, Deel 149, 1ste Afl. (1993), pp. 77-93, hlm. 80.
[18]Eric Tagliacozzo, op. cit., 51
[19]J J Rizal, “Wabah, Naga Siluman, dan Maaf Belanda” dalam https://majalah.tempo.co/read/selingan/160155/kolom-jj-rizal-jokowi-belanda-dan-keris-diponegoro diakses pada Kamis, 7 Mei 2020.
[20]Syefri Luwis, “Pemberantasan Penyakit Pes di Wilayah Malang 1911-1916” [Skripsi pada Departemen Sejarah UI] dikutip dalam Priyanto Wibowo, dkk, Yang Terlupakan: Sejarah Pandemi Influenza 1918 di Hindia Belanda (Depok: FIB UI, Unicef, Komnas FBPI, 2009), hlm. 60.
[21]Ravando, Ibid
[22]Nur Janti, “Sejarah Karantina untuk Cegah Penyakit Merajalela Masa Hindia Belanda” dalam https://historia.id/sains/articles/sejarah-karantina-untuk-cegah-penyakit-merajalela-masa-hindia-belanda-vZXoL diakses pada Kamis, 7 mei 2020 13.46.
[23]Jaime Breitnauer, op. cit., hlm. 84-85.
[24]Kirsty Walker, op. cit., hlm. 66.
[25]Ibid, hlm. 68

  • Share
Exit mobile version