Suatu ketika Imam Hasan Al-Bashri dalam majelis pengajiannya di masjid yang berada daerah Basrah (Irak) pada awal abad ke-8 M / 2 H, ditanyakan oleh salah satu muridnya mengenai pendapat sang guru terhadap seseorang yang melakukan dosa besar. Sebelum menjawab pertanyaan sang murid, tiba-tiba Washil bin Atha’ yang juga muridnya menjawab bahwa orang yang berbuat dosa besar, maka statusnya bukanlah mukmin dan bukan pula kafir, tetapi berada di antara keduanya yakni tidak mukmin dan tidak kafir (al-Manzilah bain al-Manzilatain/posisi diantara dua posisi).

Setelah itu, Washil memisahkan diri dari kelompok pengajian Hasan Al-Bashri dan pergi ke pojok masjid bersama pengikutnya. Atas hal tersebut kemudian Imam Hasan Al-Bashri berkata, i’tazaala anna washil (Washil menjauhkan diri dari kita). Kemudian, beberapa ulama berpendapat atas peristiwa memisahkan diri tersebut sebagai kelompok Mu’tazilah.

Lahirnya kelompok Mu’tazilah juga dianggap sebagai jalan tengah dari perdebatan pada masa itu yakni golongan Khawarij yang seringkali mengkafirkan seseorang karena perbuatan dosa, dengan golongan Murji’ah yang tidak mengkafirkan seseorang meskipun melakukan dosa besar asalkan dirinya masih beriman. Kemudian golongan Mu’tazilah merespon dengan menyatakan bahwa pelaku dosa besar statusnya berada di antara mukmin dan kafir, hingga golongan ini berlanjut menjadi satu aliran teologi.

Secara istilah, Mu’tazilah diambil dari bahasa Arab yakni i’tazala yang berarti terpisah atau memisahkan diri. Hal tersebut berakar dari peristiwa berpisahnya Washil bin Atha’ dari majelis pengajian bersama sang guru Imam Hasan Al-Bashri saat dimintakan pendapat mengenai status pelaku dosa besar. Dalam perkembangannya, Washil bin Atha’ mendirikan mazhab teologi Mu’tazilah pada masa akhir dinasti Umayyah dengan mencirikan keutamaan akal pikiran dan mengabaikan dalil-dalil Qur’an dan As-Sunnah. Sehingga golongan ini sering disebut sebagai kaum rasionalis Islam.

Perkembangan filsafat Yunani yang berkembang pada masa dinasti Umayyah, menjadikan pusat-pusat kota seperti Alexandria, Antioch, dan Bactra sebagai pusat ilmu pengetahuan dan memberikan pengaruh yang besar bagi pemikiran umat Islam masa itu. Pada akhirnya terjadilah pembauran antara ajaran Islam dan filsafat Yunani begitupun cikal bakal lahirnya aliran Mu’tazilah oleh Washil bin Atha’.

Doktrin terkenal dalam mazhab Mu’tazilah yakni al-Manzilah bain al-Manzilatain/posisi diantara dua posisi.

Badri Yatim dalam bukunya Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyah II (2000) berpendapat bahwa teologi rasional Mu’tazilah muncul di penghujung pemerintahan dinasti Umayyah, namun pemikiran-pemikirannya yang kompleks dirumuskan pada masa dinasti Abbasiyah setelah terjadi hubungan dengan pemikiran Yunani hingga membawa pemikiran rasional dalam Islam. Kemajuan aliran Mu’tazilah semakin berkembang pesat pada masa pemerintahan kekhalifahan Abu Ja’far Abdullah Al Ma’mun (198-219 H) yang sangat menjunjung tinggi ilmu pengetahuan. Hingga pada akhirnya Al Ma’mun menjadikan aliran Mu’tazilah sebagai mazhab resmi negara yang diekspresikan kefanatikannya terhadap Mu’tazilah dengan memaksa rakyat untuk mengikuti teologi tersebut.

Secara umum, terdapat lima pokok ajaran Mu’tazilah yaitu, (1) tauhid, (2) adil, (3), janji dan ancaman (al-wa’d wa al-wa’id), (4) posisi diantara dua posisi (al-manzilah baina al-manzilatain), dan (5) amar ma’ruf nahi mungkar. Doktrin terkenal dalam paham Mu’tazilah yakni al-manzilah baina al-manzilatain yang diserukan oleh Washil bin Atha’ tentang kedudukan orang mukmin yang fasik yakni tidak mukmin dan tidak juga kafir, sehingga kedudukannya tidak neraka dan tidak pula di surga. Status seorang mukmin yang melakukan dosa besar, kedudukannya berada dalam satu posisi antara iman dan kufur (al-manzilah baina manzilatain).

Catatan mengenai peran sang pendiri aliran teologi Mu’tazilah yakni Washil bin Atha’ banyak disebutkan sebagai intelektual muslim yang cerdas. Hingga suatu ketika dirinya diminta secara mendadak oleh sesama murid majelis pengajian untuk menjadi khatib pada khutbah Jum’at, dan sebagai usaha rekan-rekannya untuk menunjukkan kelemahan Washil bin Atha’ bahwa dirinya tidak dapat menyebut huruf R (ra) atau cadel.

Pada akhirnya, Washil berhasil menunjukkan sebuah khutbah yang fenomenal dan unik sepanjang sejarah peradaban Islam dengan kandungan isi khutbah yang tidak satupun terdapat huruf R (ra), tetapi menggantinya dengan kata lain dalam bahasa Arab yang memiliki arti yang sama maknanya. Para jamaah Jum’at pun terkesima dengan kecerdasan Washil bin Atha’, dan dirinya berhasil menyembunyikan kelemahan dirinya karena cadel.

Namun demikianlah kecerdasan yang sia-sia, Washil bin Atha’ berhasil menunjukkan kecerdasan yang dapat memukau banyak orang, tetapi tidak diiringi taufik hidayah akan ilmunya hingga menjadi bumerang karena kesesatannya. Ialah pendiri paham Mu’tazilah yang menjunjung tinggi akal dibanding Al-Qur’an, As-Sunnah, dan ijma’ para ulama. Begitupun ajaran terkenalnya dengan mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah makhluk bukan Kalamullah. Hikmah dalam kisah tentang paham Mu’tazilah dan peran sang tokoh Washil bin Atha’, menunjukkan bahwa kecerdasan memanglah penting, tetapi karakter diri dan sikap tawaduk dalam berilmu lebih penting daripada sekedar kecerdasan yang luar biasa. Wallahu A’lam

*Tulisan pernah dimuat di https://harakatuna.com/mengenal-mutazilah-dari-teologi-ke-politik.html