Siapapun yang paham akan dirinya, Insyallah itu orang yang sukses, yang selamat. Kalau dia tidak paham akan dirinya sendiri, pasti ambyar

Pak Jumad

Siapa yang menyangka bahwa Aliansi Gerakan Mahasiswa Pro Rakyat (GEMPAR) yang lahir atas kegelisahan mahasiswa pernah dipimpin oleh salah satu kader PMII Sunan Kalijaga. Pak Jumad, seperti itulah orang menyapanya. Pria kelahiran Dampit Kabupaten Malang ini merupakan salah satu aktor sejarah penjatuhan orde baru yang berasal dari kampus “keguruan” negeri.

Saat itu, tak banyak kampus Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) yang turut aksi. Intimidasi TNI dan kampus masih menjadi senjata ampuh melumpuhkan gerakan mahasiswa. Meskipun sempat mendapat surat peringatan dari rektorat, menjadi tahanan kepolisian untuk beberapa hari, pantang menjadikan mahasiswa sastra arab ini gentar. Kesadaran sosial dan keinginan yang kuat menggerakkan hatinya untuk turun jalan. Dan tepat, keruntuhan orde baru menjadi hadiah kelulusan yang begitu berharga dalam hidupnya.

Begitulah kisah heroik yang dituturkan kepada kami, saat menemuinya di ruko usahanya, Mebel Barokah (12/3) lalu.

Sejak lulus SMA pada tahun 1992, beberapa tahun mengabdi di pondok, hingga menjadi mahasiswa, beliau aktif di berbagai kegiatan kampus seperti HMJ, UKM Hampa, dan PMII mulai dari pengurus Komisariat Sunan Kalijaga hingga Cabang PMII Kota Malang. Rupanya, selain menjadi seorang aktivis yang getol turun jalan, beliau juga merupakan tokoh yang sangat peduli tentang nilai pendidikan.

“Dulu, ketika menjadi IKIP, rata-rata anak PMII dikenal seperti pesantren, mayoritas santri, jadi disaat ada kegiatan keagamaan itu pasti mengusai”. Bahkan ketika masih menjadi mahasiswa baru, beliau pernah ditegur habis-habisan saat ketahuan membonceng santriwati. Saat itu, kultur mahasiswa IKIP haruslah bisa menjadi teladan yang baik sebelum terjun ke masyarakat, sesuai dengan slogan guru, digugu lan ditiru. Namun, beliau juga menyadari bahwa tantangan jaman sudah berubah, “Jaya pada masanya”

Beliau berpesan bahwa saat ini, kader yang baik adalah mampu mengelaborasikan antara tujuan awal dan fakta realitas dilapangan. Insyallah sukses. Tujuan utama ke Malang harus tetap di pegang, dan tanggung jawab organisasi harus tetap jalan. Pengurus harus bisa membagi waktu. “Menjadi aktivitis takkan pernah sia-sia. Karena secara otomatis, rata-rata aktivis dilamar oleh masyarakat, tidak mudah gawoh”, pesan beliau.

Beliau juga berharap bahwa PMII saat ini juga tetap melestarikan nilai-nilai luhur. Setidaknya, silaturahim kepada alumni harus tetap terjalin. “Kalau bisa digabungkan dalam satu forum saling berbagi kisah, semacam testimoni”, ujar beliau.