Oleh : Nurun Naila Izati*

Di tengah kemajuan teknologi dan globalisasi saat ini, Indonesia masih menjadi salah satu negara yang masuk klasifikasi negara berkembang. Meski tidak dikatakan sebagai negara tertinggal, tetapi negara Indonesia masih belum cukup dikategorikan sebagai negara maju. Jika dilihat dari segi historis, Indonesia memang sangat berpotensi untuk menjadi negara maju dilihat dari sumber daya alam yang kaya dan melimpah. Namun, yang perlu diketahui selain dengan adanya sumber daya alam (SDA) yang melimpah, juga perlu adanya pemberdayaan sumber daya manusia (SDM) yang profesional dan mumpuni dalam mewujudkan sebuah negara yang maju.

Permasalahan yang dihadapi Indonesia saat ini adalah bukan dari SDA yang ada, melainkan terletak pada SDM yang kurang berkualitas. Menurunnya kualitas SDM seperti munculnya sikap ketidakmandirian, lebih suka mengonsumsi produk asing, budaya hedonisme, menjamurnya KKN (Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme), tidak lain bersumber dari karakter pribadi seseorang yang sudah tidak cocok dengan karakter bangsa Indonesia, sebagaimana termuat dalam nilai-nilai Pancasila. Oleh karena itu, dalam membentuk karakter bangsa yang sesuai dengan Pancasila, perlu adanya pendidikan karakter yang diajarkan sedini mungkin. Tidak hanya melalui pendidikan formal seperti sekolah, melainkan bisa dengan pendidikan informal, maupun non formal.

Pendidikan karakter merupakan suatu usaha sadar yang dilakukan untuk membentuk suatu karakter positif yang nantinya akan diterapkan dalam kehidupan dalam bermasyarakat. Adapun konsep pendidikan karakter juga disesuaikan dengan beberapa aspek yaitu agama, adat atau budaya, dan implementasi kepemimpinan. Adanya pendidikan karakter, bertujuan untuk membangun kembali sikap dan nilai-nilai bangsa Indonesia yang sudah mulai luntur seperti sikap cinta tanah air, toleransi, kejujuran, dan gotong royong. Selain itu, permasalahan yang paling menonjol adalah sikap egois dan rendahnya kesadaran akan kepentingan bersama.

Bukti konkrit dari permasalahan tersebut adalah maraknya tindakan nepotisme yang dilakukan oleh para pejabat yang tentunya akan sangat merugikan dalam hal pendapatan negara. Bukti lain adalah banyaknya masyarakat Indonesia yang lebih menyukai produk asing baik transportasi, logistik, maupun yang lain. Mereka menganggap bahwa produk impor lebih berkualitas dari pada produk lokal. Seperti yang saya kemukakan tadi, semua kembali lagi pada karakter masyarakat Indonesia sendiri. Andaikan mereka lebih menyukai produk lokal sudah barang tentu dapat memacu semangat para produsen lokal untuk mengembangkan produknya dan makin percaya diri karena produknya laku di pasaran. Hal itu pula dapat menjadikan masyarakat lebih produktif, dimana dengan hal tersebut dapat menambah lapangan pekerjaan bagi pribumi dan mampu mengurangi angka pengangguran di Indonesia. Adanya pendidikan karakter pada akhirnya merupakan salah satu upaya untuk membantu mewujudkan negara Indonesia menjadi negara maju yang didukung dengan sumber daya berkualitas, baik kekayaan alam maupun pemberdayaan manusia yang berkualitas.

“Kerugian terbesar bangsa Indonesia ini akibat dari kolonialisme, dan bukan karena gugurnya para pejuang, pahlawan bangsa, ataupun mengalirnya sumber kemakmuran keluar negeri yang kini pun masih berlangsung tapi persoalan mendasar yakni lunturnya karakter bangsa. Dulu bangsa ini bermental seperti sang Garuda, terbang tinggi menjaga teritori, mata tajam mengawasi, menjelajahi hingga Madagaskar. Namun kini seperti burung emprit yang suka mencuri padi petani. Dulu (bangsa Indonesia) bermental seperti sekawanan banteng yang saling melindungi, menanduk keluar yang berani menanggungnya, (namun) kini seperti kambing ternak dikandangkan yang diperah orang.”-Najib Jauhari- dosen sejarah Fakultas Ilmu Sosial UM.

(*) Penulis adalah kader rayon PMII Al-Ghozali (FIP UM) Jurusan Administrasi Pendidikan 2019