oleh Fitrah Izul Falaq

Menginjak tahun 2000, kalender Gregorian menandai secara resmi bahwa kita telah memasuki abad 21. Proses transisi peradaban ini ditandai dengan masifnya perkembangan teknologi dan karakteristik sosial dalam segala aspek, tak terkecuali pendidikan. Transformasi pendidikan pada abad 21 mengharuskan pebelajar memiliki keterampilan dan kecakapan dalam mengelola, menggunakan, dan mengembangkan daya berpikirnya (Nurmala & Priantari, 2017). Setidaknya terdapat 4 kecakapan pokok yang harus dimiliki yaitu berpikir krisitis, kreatif, kolaborasi, dan komunikatif (Griffin et al., 2012). Disisi teknologi, ditemukannya platform jaringan nirkabel, kecerdasan buatan, smartphone, telekonferen, dan lingkungan virtual juga menjadi aspek penting dalam penggesaran paradigma pembelajaran. Menurut hemat penulis, disinilah peran penting etika keilmuan sebagai landasan dan jawaban dalam mengelaborasikan teknologi dengan manusia memasuki abad 21 sekaligus menghadapi era Society 5.0.

Dari segi kajian paradigma pembelajaran, penulis menilai kita sudah mempunyai persiapan yang cukup matang. Pada tahun 1998, Prof. Dr. I Nyoman Sudana Degeng, dalam pidato pengukuhan guru besar menghasilkan karya yang lugas, teoritik, dan berani dengan judul “Mencari paradigma baru pemecahan masalah belajar: Dari Keteraturan Menuju Kesemrawutan”. Dalam pidato tersebut, beliau menggambarkan secara komprehensif perbandingan dan transformasi paradigma dalam pembelajaran. Bahkan, secara tegas beliau menyatakan bahwa “kebebasan” menjadi unsur penting dalam lingkungan belajar, agar pebelajar mampu melakukan kontrol terhadap pemenuhan kebutuhan emosionalnya, sehingga pembaharuan paradigma pembelajaran dari keteraturan ke semrawutan sangatlah diperlukan (Degeng, 1998).

Olehkarena itu, pembelajaran abad 21 menjadi peluang era baru perkembangan paradigma kontruktivisme yang menitikberatkan pada aktivitas pebelajar melalui proses menciptakan, menginterpretasikan, dan mereorganisasikan pengetahuan dengan jalan individu (Cahyanto & Prabawati, 2019). Elaborasi teknologi dalam pembelajaran dapat difasilitasi melalui pembelajaran yang bersifat konstruktif, tidak lagi seragam, melainkan pebelajar diberi kebebasan untuk menentukan lingkungan belajarnya sendiri.

Lahirnya Society 5.0 sebagai gejolak Revolusi Industri 4.0

Sebelum tugas ini dibuat, pada tahun 2019, penulis telah menulis terkait lahirnya era masyarakat baru yang kita kenal sekarang sebagai Society 5.0. Tulisan tersebut dapat dilihat melalui google dengan kata kunci “integrasi manusia dengan mesin” di portal media pendidikan keluhkesah.com.

Ide gagasan tentang Society 5.0 pertama kali digaungkan pada awal tahun 2019 dalam Pertemuan Tahunan Forum Ekonomi Dunia 2019 di Davos, Swiss. Blueprint rancangan mode sosial masyarakat tersebut dapat diakses pada website resmi http://japan.go.jp yang disosialisasikan melalui sebaran berjudul “Realizing Society 5.0”. Dalam artikel tersebut, Negeri Sakura itu menilai bahwa massifnya teknologi yang berkembang saat ini tidak boleh menggantikan peran manusia seutuhnya. Konsep yang sangat penting sebagai jawaban atas isu sosial yang akan menghapus peran manusia.

Secara historis, dalam sebaran gagasan tersebut, dijelaskan bahwa perkembangan mode sosial masyarakat dimulai dari Society 1.0 hingga Society 5.0. Bermula Society 1.0 pada saat manusia masih berada di era berburu dan mengenal tulisan, selanjutnya Society 2.0 adalah era pertanian dimana manusia sudah mengenal bercocok tanam, Society 3.0 : sudah memasuki era industry yaitu Ketika manusia sudah mulai menggunakan mesin untuk membantu aktivitas sehari-hari, Society 4.0: manusia sudah mengenal computer hingga internet dan Society 5.0 era dimana semua teknologi adalah bagian dari manusia itu sendiri, internet bukan hanya digunakan untuk sekedar berbagi informasi melainkan untuk menjalani kehidupan (Government of Japan, 2018).

Secara garis besar, ide pokok 5.0 Society adalah mewujudkan sebuah masyarakat yang berpusat pada manusia yang menyeimbangkan kemajuan ekonomi dengan penyelesaian masalah sosial  melalui sistem yang sangat mengintegrasikan ruang maya dan ruang fisik. Berbeda dengan konsep Revolusi Industri 4.0 yang menghendaki otomasi dan mengurasi peran manusia, 5.0 Society lebih menekankan pada penggabungan ruang maya dan fisik, sehingga manusia dan mesin bisa berkolaborasi dalam terciptanya smart people. Istilah itu muncul untuk menggambarkan masyarakat yang mampu menyeimbangkan kemajuan teknologi dalam menyelesaikan masalah sosial melalui sistem yang terintegrasi.

Gagasan Pembelajaran Abad 21 memasuki Era Society 5.0

Secara pribadi, penulis lebih sepakat penggunaan Society 5.0 daripada Revolusi Industri 4.0. Dalam menghadapi era Society 5,0, tentunya kaidah pokok dalam bidang kajian Pengembangan Sumber Daya Manusia (PSDM) sangat penting untuk dikaji. Artinya, peran manusia tidak akan 100% digantikan oleh mesin, namun teknologi tersebut akan berfungsi secara optimal dengan keterampilan manusia. Hal tersebut dapat dioptimalisasi peran dan kedudukan PSDM.

Setidaknya, terdapat tiga pokok pikiran terkait peran dan kedudukan PSDM dalam menghadapi era 5.0 Society diantaranya yaitu :

  1. Membekali setiap orang agar bisa memanfaatkan peran teknologi dan layanan berbasis big data secara optimal.
  2. Menyediakan fasilitas dan layanan PSDM online dengan harga eknomis. Salah satunya seperti layanan medical care yang digadang-gadang akan menggantikan peran dokter. Bisa jadi, peran widyaiswara, mentor, fasilitator, dsb juga dapat digantikan oleh mesin yang dielaborasikan dengan manusia.
  3. Tidak menutup kemungkinan layanan PSDM juga akan mengarah pada penciptaan teknologi baru. Salah satunya adalah teknologi yang sudah berkembangan massif di Jepang seperti virtual training melalui games, tes bakat minat, penentuan karir, dll.

Dalam benak penulis, setelah Jepang berhasil menerapkan konsep 5.0 Society ini, maka setiap negara juga akan berfikir untuk menerapkannya. Posisi layanan PSDM juga akan tergeser dengan adanya lahirnya sistem ataupun teknologi baru.

Tanpa kita sadari, Indonesia juga telah memulai era baru ini. Salah satu contoh kongret dalam dunia PSDM khususnya pendidikan adalah dengan adanya platform Ruangguru.com. Kegiatan pembelajaran tidak sepenuhnya digantikan oleh mesin, melainkan juga melibatkan peran manusia dalam menciptakan konten pembelajarannya. Secara sederhana, itulah konsep yang diinginkan dari terciptanya masyarakat 5.0. Namun juga perlu kita perhatikan, dengan maraknya platform semacan itu, secara tidak langsung layanan bimbingan belajar konvensional perlahan semakin tergerus.

Dengan biaya yang sama, resources yang didapatkan dapat digunakan secara terus menerus tanpa ada batasan. Berbeda dengan sistem konvensional yang mengharuskan kita membayar di setiap pertemuan, dalam era 5.0 Society kita cukup mendownload-nya saja. Bisa jadi, bila hari ini peran guru bimbel secara perlahan mulai tergeser, tidak menutup kemungkinan bahwa peran guru sekolah pun demikian.

Untuk itu, sudah seharusnya generasi muda hadir untuk lebih kritis dan melahiran inovasi dalam mengelaborasikan teknologi dan manusia secara beriringan. Baiknya, setiap orang tidak akan mengalami kesulitan untuk mencari layanan diklat, workshop, pemberdayaan, ataupun upaya peningkatan lain, karena sudah bisa diakses tanpa ada batasan jarak dan waktu. Buruknya, apabila kita tidak teliti dan mulai berbenah, peran “pengembang” sendirilah yang akan punah.

DAFTAR PUSTAKA

Cahyanto, I. D., & Prabawati, M. N. (2019). Kontruktivisme dalam pembelajaran matematika. Prosiding Seminar Nasional & Call For Papers, 274–280.

Degeng, I. N. S. (1998). Mencari Paradigma Baru Pemecahan Masalah Belajar Dari Keteraturan Menuju Kesemrawutan – I Nyoman Sudana Degeng.pdf. In Departemen Pendidikan dan Kebudayaan IKIP Malang.

Government of Japan. (2018). Realizing Society 5.0. 5.

Griffin, P., McGaw, B., & Care, E. (2012). Assessment and teaching of 21st century skills. In Assessment and teaching of 21st century skills (Vol. 9789400723245, Issue January). https://doi.org/10.1007/978-94-007-2324-5

Nurmala, R. S., & Priantari, I. (2017). Meningkatkan Keterampilan Komunikasi Discovery Learning Improving Communication Skills And Cognitive Study Result Through Discovery. Jurnal Biologi Dan Pembelajaran Biologi, 2(1), 1–10. http://jurnal.unmuhjember.ac.id/index.php/BIOMA/article/view/586