Covid-19 dan Rehabilitasi Bumi

Oleh: Badrut Tamam*

Wabah virus Covid-19 yang sedang melanda Bumi, merupakan hal yang sangat mengkhawatirkan untuk kehidupan makhluk hidup terutama manusia. Awal mulanya muncul wabah virus Covid-19 membawa dampak positif untuk rehabilitasi bumi meskipun ini bukan jangka panjang. Pada kenyataannya wabah virus ini menghentikan aktivitas yang sedang terjadi di bumi. Negara-negara yang melakukan lockdown merupakan negara yang memiliki aktivitas paling sibuk seperti italia dan tingkok.

Badan Antariksa Eropa (ESA) menjelaskan bahwa emisi nitrogen di Italia menurun secara signifikan. Satelit Copernicus sentinel-5p mendeteksi penurunan ini yang terjadi pada bagian utara negara tersebut. Di Hubei Tiongkok langit menjadi biru, perlu menjadi catatan bersama bahwa negara Tiongkok merupakan penyumbang pencemaran udara terbesar di dunia, sekitar 30% emisi gas CO2 di dunia setiap tahunnya, bahkan pada tahun 2017 Cina emisi yang dihasilkan sebesar 10,5 miliar ton yang menyebabkan curah hujan menurun.

Negara Tiongkok adalah produsen sekaligus konsumen batubara terbesar di dunia. Menurut Marshall Burke seorang peneliti dari Stanford University,AS meyakini penurunan polusi udara ini akan menyelamatkan ribuan orang dari kematian yang diakibatkan oleh udara beracun. Hal ini berbanding lurus dengan kualitas udara yang buruk dan kematian diri terkait menghirup udara beracun. Dalam dua bulan penurunan tingkat polusi yang ada di Tiongkok telah menyelamatkan nyawa 4.000 balita dan 73 ribu manula usia di atas 70 tahun. Bahkan, seorang ilmuwan iklim dari University of Colorado Boulder mengatakan berkurangnya aktivitas ekonomi yang terjadi di bumi dikaitkan dengan penurunan emisi, meskipun hal ini tidak pasti. Jika saya berpendapat, memang hal ini serasa mustahil. Tapi jika dikaitkan dengan kegiatan manusia dan peralatan yang digunakan dalam kegiatan sehari-hari, tidak menutup kemungkinan hal ini benar adanya, asap kendaraan bermotor dan aktivitas dari pabrik yang menghasilkan gas emisi dan karbonmonoksida merupakan hal yang paling besar dalam menyumbangkan polusi udara yang terjadi di bumi kita sekarang.  

Dikutip dari Liputan 6.com bahwa para peneliti di New York pada Minggu (29/3/2020) hasil riset menunjukkan bahwa kadar karbon monoksida  terutama dari kendaraan bermotor telah berkurang hampir 50% dibandingkan dengan tahun lalu. (1) New York,  tingkat lalu lintas di Kota ini menurun hingga 35%, emisi karbonmonoksida telah turun 50%, gas metana turun 5-10% , CO2 menurun 5-10%  kondisi ini bisa dikatakan keadaan terbersih selama pandemi covid 19 ini. (2) China, mengalami penurunan 25% penggunaan energi dan emisi . (3) Italia, penurunan nitrogen dioksida yang terkait dengan pengurangan perjalanan mobil dan aktivitas industry. (4) Negara-negara eropa lainnya . Lembaga Meteorologi Kerajaan Belanda (KNMI) memantau gas atmosfer termasuk di dalamnya NO2 mengalami penurunan.

Hal ini membawa dampak membaiknya lapisan ozon di bumi. Lapisan ozon merupakan perisai pelindung yang berada di stratosfer bumi yang menyerap sebagian besar radiasi ultraviolet dari matahari. Tanpa adanya lapisan ozon ini, pastinya siapapun tidak akan bisa bertahan di planet ini.

Sejarah mencatat bahwa penipisan lapisan ozon yang terjadi pada tahun 1980-an merubah pola curah hujan dan arus laut. Manusia memiliki peranan penting dalam terjadinya kerusakan lapisan ozon di bumi. Kebiasaan sehari-hari yang tanpa mereka sadari dan bisa merusak lingkungan, hal yang paling sering kita jumpai untuk masyarakat Indonesia ialah budaya membuang sampah sembarangan. Bukan hanya budaya ini yang dapat menyebabkan terjadinya kerusakan lingkungan, disadari atau tidak, peternakan merupakan salah satu penyumbang pemanasan global yang semakin sulit untuk diatasi. Gas metana yang dihasilkan oleh aktivitas peternakan ini berasal dari kotoran hewan dan fermentasi enternik yang dapat mempertipis lapisan ozon.

Selain dari aktivitas peternakan, FAO (Food and Agriculture Organization of United Nations) mencatat sekitar 1/3 makanan yang masih layak berakhir di tempat pembuangan. Limbah makanan ini pastinya menjadi polemik global karena menyiakan tanah, air, energi, tenaga kerja serta sumber daya alam lain. Begitu banyak dampak yang ditimbulkan. Jika terjadi pemanasan global yang secara terus menerus, salah satu dampak yang sangat dirasakan oleh manusia ialah berkaitan dengan waktu tidur manusia. Sebuah penelitian menyebutkan bahwa waktu tidur manusia akan semakin berkurang karena bumi yang semakin panas.

Tidur merupakan hal yang sangat diperlukan dan vital bagi manusia. Kualitas tidur yang tidak baik akan mempengaruhi tubuh manusia dan rentan terkena penyakit kronis seperti halnya gagal jantung, serangan jantung, tekanan darah tinggi, stroke, diabetes, membuat kulit cepat tua yang akan mempengaruhi kecantikan, mengurangi gairah seksual, cepat jadi pelupa, dan mudah menggemuk. Negara-negara seperti Singapura, Korea Selatan, dan Belanda, tidur sudah menjadi hal yang mewah untuk takaran negara maju.

Singapura pada tahun 2014 menjadi salah satu negara dengan jam kerja yang paling tinggi di dunia. Dalam setahun rata-rata seorang warganya harus bekerja sampai dengan 2389,4 jam untuk membanting tulang mencari nafkah. Jika mereka tidak bekerja hal ini pastinya akan berdampak terhadap roda ekonomi, sosial, dan politik dalam suatu Negara. Nick Obradovich seorang politikus sekaligus peneliti perubahan iklim mengklaim bahwa pemanasan global yang terjadi akan membawa dampak terhadap semakin berkurangnya waktu tidur manusia. Dalam penelitiannya dia menemukan fakta bahwa korelasi antara suhu tinggi yang disebabkan oleh efek rumah kaca yang terus meninggi dan gangguan tidur yang dirasakan warganya. Hal ini terjadi pada masyarakat miskin yang tidak mampu membeli pendingin ruangan (AC) untuk mendinginkan udara di dalam ruangan tinggal di daerah tropis dan memiliki empat musim serta orang tua.

Bumi kita memang telah mengalami kenaikan suhu pada tahun 2015. Lalu suhunya menjadi 1,5 sampai 2 derajat celcius yang menjadi lebih panas dalam beberapa tahun terakhir. Kenaikan suhu ini pastinya juga memiliki pengaruh terhadap alam. Sebagai contoh luas es di Artik yang semakin sempit mengakibatkan air laut makin tinggi dan luas daratan yang menyempit. Bukan hal yang tidak mungkin jika makhluk darat lain suatu saat nanti akan berebut rumahnya di daratan dengan manusia.

Manusia menjadi penyebab atau bisa dikatakan sebagai faktor utama dalam terjadinya pemanasan global, hal ini juga berkaitan dengan dampaknya yang di terima oleh manusia secara langsung, sudah siapkah kita mengalami dan menghadapi pemanasan global ini jika kita tidak melakukan dan ikut menjaga ekosistem alam.  

Jika memang pandemi ini masih berlangsung tentunya memang banyak yang dirugikan. Tapi jika kita melihat dan menarik kesimpulan tentang rehabilitasi bumi yang terjadi untuk saat ini, tidak menutup kemungkinan, bahwa lapisan ozon bumi akan pulih sepenuhnya pada tahun 2030-an untuk belahan bumi utara. Pada tahun 2050-an bagian bumi selatan dan lubang antartika akan pulih pada tahun 2060-an.

Wallahu a’lam…

Salam lestari.…

*Penulis adalah Kader PMII Komisariat Sunan Kalijaga Malang, Jurusan Geografi UM

ilustrasi: intisari.grid.id

About Author

Add a Comment