“Bagi rakyat kebanyakan, setan begitu menakutkan, menghantui pikiran-pikiran, menjelma khayalan. Tapi di negeri senayan, bukan setan, orang-orangnya yang menakutkan, bak kesurupan kekayaan, ia menjarah rumah, memeras keringat rakyat, menculik masa depan anak-anak, membajak lahan-lahan, tentu merusak alam”

Oleh: Ahmad Fahmil Aziz*

Ini bukan di negeri dongeng seperti kisah-kisah nenek sihir yang merampas harta para rakyat, bukan pula wewe gombel yang menculik anak-anak, atau raksasa dalam kisah timun emas yang suka menjarah kebun warga. Tapi ini nyata, di negeri yang kita cintai ini. Kalau kamu masih menganggap ini cuma dongeng, atau akal-akalan orang pesakitan. Eeeh,, coba deh kamu minimize dulu tulisan ini, terus buka tab baru di kolom pencarian gadgetmu atau laptopmu tentang pergusuran, korupsi, kemiskinan, kaum-kaum marginal, perusakan lingkungan, pelecehan seksual, difable menuntut hak, kekerasan pendidikan dan lainnya. Masih kurang ? Cukup. Kalau gitu lanjutkan baca tulisan ini, syaratnya gampang kok, nggk boleh ngegas dan cukup siapkan minuman, syukur-syukur kalau ada cemilannya.

Bagi kamu yang lahir dan tinggal di desa, coba ingat-ingat lagi deh. Pasti masa kecilmu tak asing dengan istilah setan seperti genderuwo, pocong, kuntilanak, wewegombel, dll yang suka menakut-nakuti masyarakat. Atau mitos tentang larangan-larangan yang punya dampak bisa kesurupan atau hidupnya nggak tenan. Nah bagi kamu yang tinggal di kota, jangan khawatir, cerita itu juga ada kok. Kalau masih menyangkal, kamu pasti pernah nonton sinetron/film jadi pocong atau hantu-hantu lain, misalnya yang bikin viral orang setanah air. Masih menyangkal lagi? Iya. Coba lihat tranding youtube Indonesia, deh, pasti ada yang horror tiap minggunya. Kenapa musti cerita setan-setan, sih?

Ini nggak cerita setan-setan, kok, tapi serem. Yang kamu ketahui dari setan, pasti setan itu nyeremin, bikin takut kalau di rumah sendirian, bikin jantung kayak mau copot kalau di bioskop tiba-tiba muncul sosoknya, bikin pikiran kemana-mana kalau lewat kuburan atau pas mau ke kamar mandi kosan malam-malam, apalagi kalau temanmu tiba ngos-ngosan sambil cerita habis melihat setan atau dengar suara aneh-aneh, rasanya detik itu juga langsung tiduran kencengin suara qiroah di hp. Sumpah deh nggak kebayang seremnya.

Nah, di senayan ada mitos yang serem juga, jangan takut, tapi kita perlu khawatir. Bayangkan di negeri senayan ada setan bentuknya seperti kita, dari ujung rambut sampai telapak kaki 100% deh mirip. Lho, kok bisa? Kenapa?

Kabarnya, mitos setan dari senayan kerap memakan uang rakyat, mengebiri hak rayat, menggusur rumah rakyat, memonopoli hukum, merusak alam dan lainnya, banyak deh. Misalnya, kenapa setan dari senayan memakan uang rakyat? Kita bisa lihat hasil survey dari Transparency International yang menunjukkan Indeks Persepsi Korupsi (IPK) Indonesia berada di level 38 dari skala 0-100 pada 2018. Indeks mendekati 0 mengindikasikan masih terjadi banyak korupsi, sebaliknya makin mendekati 100 semakin bersih dari korupsi.

Berlanjut ke data Indonesia Corruption Watch (ICW), aparat penegak hukum telah menangani 454 kasus korupsi sepanjang tahun 2018. Rata-rata kasus dugaan korupsi yang ditangani penegak hukum selama periode 2015-2018 sebanyak 392 kasus dengan jumlah tersangka mencapai 1.153 orang dan kerugian negara sebesar Rp 4,17 triliun per tahun. Itu 4,17 triliun brooo sissss, bukan 4,17 perak!

Bayangin kalau itu dibeliin cendol dawet bisa banjirin satu provinsi, Bos. Atau kalau dibuat beli sembako selama social distancing ini, nggak kebayang deh senengnya lihat bapak-bapak/ibu-ibu tinggal di rumah tanpa khawatir besok mau makan apa. Apalagi lihat anak-anak bikin stori “Baru kali ini rebahan itu membosankan” sumpah seneng banget. Perlu kita tahu bahwa uang-uang itu ya uang kita. kita bayar pajak kendaraan, pajak tanah, pajak penghasilan, bahkan kita beli barang-barang itupun ada pajaknya dan itu masuk ke negara. Lalu, kamu masih nggak khawatir?.

Mitos tentang setan dari senayan tidak hanya itu saja. Konsorsium Pembaharuan Agraria (KPA) mencatat sepanjang tahun 2019 terdapat 279 konlik agraria dengan total luas wilayah konflik mencapai 734 ribu hektare dan berdampak pada sekitar 109 ribu KK. Sementara pada tahun 2018 sedikitnya telah terjadi 410 konflik agraria dengan luasan wilayah konflik mencapai 807 ribu hektar dan melibatkan 87 ribu KK. Selama 2015-2019 ada 55 orang meninggal, 75 tertembak, 757 dianiaya, dan 1298 orang dikriminalisasi karena mempertahankan tanahnya. Luas biasa bukan?

Konflik agraria memang identik dengan kekerasan, pelanggaran HAM, pergusuran, bahkan melibatkan hutan. Bayangkan saja, akhir-akhir ini di kala musim kemarau kita kesulitan mendapatkan air, ya untuk masak lah, untuk mandilah, untuk minumlah, dll. Waktu musim kemarau itu juga pasti ada aja berita tentang kebakaran hutan, dan parahnya benih-benih sawit sudah disiapkan untuk memperluas korporasi perkebunan sawit. Dan di kala musim penghujan, kita hanya bisa menerima nasib tempat tinggal kita kena banjir.

Lalu bagaimana tahun-tahun esok? Kapan ini semua akan berakhir ? Itu baru satu saja akibat dari dampak agraria di sektor lingkungan dan masih banyak lagi. Kita memang perlu banyak akses baca tentang konflik agraria dan kerusakan lingkungan deh, seperti di kpa.or.id, walhi.or.id, greenpeace.org, jatam.org serta masih banyak lainnya.

Monopoli perundang-undangan pun jadi makanan lezat setan-setan di senayan. Demi apa? Ya demi memuluskan sumber-sumber makanan mereka. September 2019 lalu, kita bisa lihat bagaimana aksi besar-besaran dari berbagai elemen masyarakat. Mereka menolak Rancangan Undang-Undang yang bisa dibilang ngawur. Mulai dari RUU KPK, RKUHP, RUU Pertanahan, RUU Ketenagakerjaan, RUU Minerba, RUU Permasyarakatan, dan sahkan RUU PKS yang sampai saat ini belum segera disahkan.

Belum cukup sampai situ, RUU Omnibus Law tiba-tiba muncul dan ngebet ingin disahkan bak vampir bangkit dari kubur dengan segala kehaluannya. Seperti dikutip dari tempo.co 14 april 2020 bahwa DPR dan Pemerintah sepakat melanjutkan pembahasan RKUHP, RUU Permasyarakatan, dan Omnibus law RUU Cipta Kerja dalam waktu dekat, yang berarti mereka akan melanjutkan pembahasan di tengah kondisi negara yang sedang melawan pandemi Covid-19. Begitu memilukan bukan?

Kamu bisa melihat dan merasakan sebagian masyarakat kesusahan untuk bertahan hidup karena kebijakan yang diterapkan pemerintah adalah Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang artinya tidak ada jaminan untuk kebutuhan hidup, tenaga medis yang mencurahkan tenaganya untuk melawan pandemi ini walau dengan resiko kematian, para NGO, mahasiswa, dan relawan-relawan yang sedang mengumpulkan donasi untuk membantu sesama rakyat. Eh, tiba-tiba mereka mau melanjutkan RUU bermasalah ini. Emang investorlah tuhan di negeri ini! Belum cukup disitu, sebanyak 36 ribu narapidana dibebaskan oleh Kemenkumham di tengah pandemi ini, bukannya fokus ikut penanganan malah bikin kebijakan kurang pas.

Entah itu semua hanya mitos atau bukan, yang pasti dalam kisahnya setan dari senayan akan terus bergentayangan, menebar rasa takut, dan memberi ancaman. Toh kalau ini pun hanya sebuah mitos, hari ini kita sedang tidak baik-baik saja. Jangan khawatir, karena pada akhir mitos itu diceritakan bahwa untuk menghadapi setan-setan dari senayan kita memerlukan penangkalnya. Penangkal tersebut berupa mantra dari langit yang berada pada sebuah kotak dari ratusan tahun silam. Penasaran isinya? Iya. Isinya adalah membentuk solidaritas nasional dan terus melawan.[*]

*Penulis pernah mendapat amanah sebagai Sekretaris LSO Riyadhul Fikr tahun 2018-2019 dan Wakil Presiden Mahasiswa BEM UM 2018

Sumber Gambar: kompas.com