Isu-isu radikalisme di Indonesia hingga saat ini masih belum menemui akhir. Hal ini berdasarkan pemaparan Direktur Pencegahan Badan Nasional Penaggulangan Teror (BNPT) Brigjend Pol R Ahmad Nurwakhid dalam acara Seminar Daring yang diselenggarakan oleh PMII Komisariat Sunan Kalijaga Universitas Negeri Malang, Senin (18/01/2021).

Dari data riset yang dihimpun oleh BNPT didapatkan hasil yang cukup mencengangkan dimana sebagian warga negara Indonesia memiliki pemikiran yang condong kepada radikalisme meskipun sebagian kecil. Pemerintah sebetulnya mulai menyadari bahaya isu ini semenjak aksi teror bom Bali dan upaya pencegahan telah dilakukan mengingat Indonesia adalah negara yang memiliki potensi konflik sangat besar.

Radikalisme agama dan terorisme sama-sama berwatak eksklusif dan intoleran. Sebenarnya ini berpotensi terjadi pada setiap agama apapun, bahkan pada level tingkatan individu apabila niat dan kesempatan itu ada.

BNPT memiliki pola pencegahan radikalisme dan aksi terorisme dengan melibatkan kelompok sipil moderat, seperti organisasi keagamaan maupun organisasi kemasyarakatan.

“Pencegahan ini tidak bisa hanya dilakukan secara parsial, tetapi secara holistik, dari hulu ke hilir. Dan yang terpenting, kaum silent majority tidak boleh terus menerus diam dan harus turut berpartisipasi aktif dalam melakukan kontra narasi terhadap isu radikalisme dan terorisme,” ucap  Brigjend Pol Ahmad Nurwakhid dalam acara yang mengusung tema “Refleksi Awal Tahun Dakwah Milenial Islam Ahlus Sunnah wal Jamaah (ASWAJA) di Tengah Pandemi dan Isu Radikalisme” tersebut.

Adapun narasumber kedua, Aliyul Murtadlo memberikan perspektif perihal definisi radikal dan radikalisme. Dalam pemahaman mainstream, radikal memiliki konotasi negatif, padahal dalam realitanya, istilah radikal sebenarnya telah jamak berada di sekitar kita seperti contoh di dalam bidang matematika, biologi, dan kimia. Namun, saat ini istilah radikalisme lebih dianggap merupakan paham yang dapat memicu perpecahan politik.

Ia turut menyinggung beberapa isu yang dapat memupuk sikap radikalisme. Seperti ketimpangan ekonomi dan ketidakadilan sosial. Ia juga menggarisbawahi pendapat dari Habib Husein Ja’far yang menyatakan bahwa akar dari terorisme adalah radikalisme.

Selanjutnya narasumber terakhir, yakni Gus Romzi Ahmad yang juga menjabat sebagai Ketua Hubungan Internasional PB PMII menekankan pentingnya dakwah digital lantaran internet memiliki potensi luar biasa untuk dapat mengkonversi seseorang menjadi radikal tanpa sentuhan fisik.

Internet dapat menciptakan echo-chamber yang berbahaya apalagi untuk golongan konservatif karena hal ini dapat memberikan batasan informasi yang mengganggu kepercayaan mereka. Gus Romzi yang juga Direktur Pendidikan Yayasan Al-Sighor ini menyampaikan bahwa kaum pemuda dan pemudi memiliki risiko besar untuk terpengaruh dan jatuh dalam kubangan radikalisme.

Maka dari itu pemuda perlu berperan aktif menjadi spoke-person dan influencer bagi pemuda lain agar mereka tak lantas membuktikan jati diri lewat kanal radikalisme.

Penulis: Indra Nurdien Hakim

Editor: Romza