Pada dasarnya posisi dan peran PMII bisa dilihat dari arah dan dimensi yang berbeda. Pertama, dalam kerangka negara dan masyarakat sipil (State and cicil sociaty). Kedua, dari sisi paradigma perubahan sosial. Dan terakhir posisi dan peran PMII dalam gerakan sosial.

Selanjutnya dalam arus gerakan sosial juga terdapat beberapa pandangan. Pertama, social movement, adalah sebuah gerakan yang bersifat sporadis, spontan, bertujuan jelas berjangka pendek, dan sangat impulsi. Contoh fenomena yang dapat kita temui adalah gerakan buruh yang menuntut kenaikan upah, bila tuntutan itu terpenuhi, maka selesailah gerakan itu.

Kedua, social cultural movement dengan tujuannya jangka panjang. Artinya tujuan yang hendak dicapai lebih fundamental dengan menghadapi hegemoni kekuasaan maupun hegemoni kelompok yang berkuasa. Olehkarenya, strategi yang digunakan berbeda dengan sebelumnya. Sasaran gerakan ini adalah pemberdayaan kelompok rentan, kelompok marginal dan orientasi kultural.

Sedangkan yang terakhir adalah historical movement. Merupakan pergolakan  yang  lebih bersifat historis. Secara tidak langsung sangat erat kaitannya dengan sejarah.


Berdasarkan penjelasan tersebut, tersedia berapa solusi bagi PMII dalam melakukan investasi seluruh daya untuk gerakan diatas. Baik itu gerakan yang bersifat spontan atau investasi jangka panjang. Maupun dalam rangka menumbukan kader yang mempunyai ketejaman analisis sosial dan mempunyai komitmen tinggi terhadap mustad’afin. Disinilah PMII ditantang untuk melampaui batas etnis, ras dan keagamaan, dengan membela golongan tertindas.

Gerakan PMII seyogyanya juga senantiasa mendasarkan diri pada komitmen keadilan , kebenaran dan kejujuran. Gerakan PMII akan terus dilakukan guna mengembangkan suasana patnership dan dialogis kepada semua kalangan. Dengan pola interdependensi, gerakan PMII harus berani, keras, namun tetap bertanggung jawab berlandaskan semangat kebangsaan dan akhlakul karimah.

Terdapat dua bentuk sumber daya yang menjadi tenaga pendorong bagi PMII untuk terlibat dalam proses politik: Pertama, Ilmu pengetahuan. Kombinasi antara watak ilmiah yaitu kritis–obyektif dengan pengetahuan yang sistematik tentang masalah-masalah kemasyarakatan disamping masalah yang menjadi bidang spesialisasinya, mendorong PMII untuk mengadakan penilaian dan menentukan sikap tentang kehidupan masyarakat yang mengelilinginya.

Kedua: Sikap idealisme yang lazim menjadi ciri mahasiswa pada umumnya. Sebagai unsur dari masyarakat yang masih bebas dari struktur kekuasaan, ada di dalam masyarakat. Kombinasi antara kebebasan struktural itu dengan pengetahuan dan pemahaman mereka akan cita-cita, idea atau pemikiran tentang politik, budaya ekonomi dan kemasyarakatan memungkinkan PMII mempunyai sikap kritis.

Dengan menyadari posisi sebagai kekuatan intelektual yang gandrung akan pembaharuan dan masa depan bangsanya, maka sepantasnya PMII selalu berada dalam ruang pencarian alternatif pembaharuan, eksploraasi yang berangkat dari kenyataan kekinian. Dengan keasadaran ini, PMII akan dengan mudah melakukan inventarisasi agenda-agenda pembaharuan bagi perjalanan bangsanya.

*diupload kembali dari laman Komisariat PMII Sunan Kalijaga terdahulu
bisa diakses di : https://pmiiliga.wordpress.com/sekilas-tentang-pmii/posisi-peran-pmii-dalam-era-pragmatisme/


Editor : Redaksi Komisariat PMII Sunan Kalijaga