oleh M. Hamim Afiat


Kemunculan lagu “Aisyah Istri Rasulullah” sempat menimbulkan kontroversi. Lantunan lagu yang banyak di bawakan musisi tanah air ini sempat menimbulkan kontroversi, salah satu alasannya karena mengumbar ciri fisik istri Rasulullah SAW. Banyak pihak yang menyesalkan fenomena ini, karena tidak seharusnya ciri fisik wanita diumbar di media publik bahkan dilantunkan menjadi sebuah lagu. Lirik lagu yang viral dan trending selama beberapa pekan ini memang banyak mendapat apresiasi warganet. Hal ini dapat dibuktikan dengan banyaknya jumlah penonton video dan banyak musisi yang meng-aransemen ulang.

Lagu ini pada awalnya diciptakan oleh musisi asal negeri Jiran yaitu Angah Razif berjudul “Aisyah” kemudian lisensi lagu ini telah dibeli Syakir Daulay dan kemudian liriknya diadaptasi oleh Mr. Bie hingga menjadi lagu yang banyak digemari seperti sekarang ini.

Lirik lagu Aisyah Istri Rasulullah yang ditulis oleh Angah Razif ini menampilkan ciri-ciri fisik Sayyidah Aisyah. Beberapa lirik yang banyak menuai kontroversi disebabkan karena penggambaran detail seperti cantik berseri, berkulit putih, pipi merah, Nabi minum di bekas bibir beliau, bermain lari-lari bersama Nabi, hingga Nabi mencubit hidungnya sembari bermanja.

Menurut saya sebagai salah satu akademisi di Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang, lagu berjudul “Aisyah Istri Rasulullah” mencerminkan kreativitas milenial untuk mendakwahkan Islam secara kontemporer. Kesenian islam melalui musik dan syair lebih cepat menyebar dan mudah diterima dikalangan masyarakat luas. Hal ini penting dilakukan agar Islam tampil kembali dalam keseharian masyarakat Indonesia yang setahun belakangan ini dihiasi dengan viralnya lagu yang menceritakan patah hati atau terkenal disebut dengan istilah ambyar.

Sebagai sebuah wujud kesenian musik yang memiliki lirik menyangkut kehidupan pribadi Istri Rasulullah, banyak menuai kontroversi di kalangan ulama. Salah satu ulama tersohor di Indonesia yakni Buya Yahya menanggapi fenomena ini di chanel youtube miliknya. Buya Yahya memberikan apresiasi terhadap penulis lagu karena telah membangkitkan semangat kawula muda untuk mempelajari kehidupan Rasulullah, sekaligus memberikan nasehat agar mengganti lirik lagu yang dinilai  tidak seharusnya umat islam mengumbar ciri fisik Ummahatul Mukminin (ibunya orang mukmin). Bahkan Buya Yahya pun tampak tidak membacakan beberapa lirik yang dapat menuai kontroversi. Tapi beliau banyak memberi masukan untuk mengubah lirik lagu tersebut agar lebih sopan dan agar lebih pantas disandingkan dengan wanita mulia seperti Sayyidah Aisyah R.A.

Berbagai opini seperti yang dilontarkan Buya Yahya tersebut menurut saya harus dianggap sebagai hal lumrah dan digolongkan sebagai kategori kritik sastra. Karena menurut Buya Yahya segala penjelasan yang mengarah pada penjelasan fisik tidak diperbolehkan karena dapat menimbulkan fitnah. Buya Yahya menyarankan untuk mengganti lirik yang kontroversial dengan lirik yang menggambarkan sifat mulia Siti Aisyah seperti cerdas, pandai, penuh kasih sayang, dan semacamnya. Jika hal ini disangkutpautkan dalam ilmu kritik sastra, pembaca tidak berkuasa terhadap karya sastra yang dibuat oleh pengarang (Van Dijk dalam Asriningsari dan Umaya, 2010:24).

Bagi pencinta sastra dan pemerhati kehidupan Rasulullah dan sahabatnya, lirik lagu “Aisyah Istri Rasulullah” dalam memuji Siti Aisyah masih belum ada setetes air di samudra luas dibandingkan sifat dan ciri aslinya. Banyak hadist yang menceritakan keromantisan cinta Rasulullah dengan Aisyah, salah satu contoh kecilnya adalah Aisyah dan Rasulullah mandi bersama dan memperebutkan gayung saat mandi. Jika lagu seperti “Aisyah Istri Rasulullah” dilarang dan menuai banyak kontroversi seharusnya hadist tentang kemesraan Aisyah dan Rasulullah juga dilarang peredarannya.

Tetapi melarang peredaran hadist sahih merupakan hal yang mustahil dan malah menimbulkan kontroversi, sehingga menurut saya peredaran lagu tersebut sah-sah saja tanpa perlu mengubah lirik lagunya. Karena islam mengajarkan untuk memperlakukan pasangan yang sah dengan romantis dan hal ini sesuai dengan lirik lagu “Aisyah Istri Rasulullah”.

Kesenian dan sesusastraan memang menuntut kepekaan rasa daripada logika. Syair, puisi, prosa, maupun lirik lagu merupakan hal yang sah-sah saja diciptakan untuk menggambarkan profil seseorang selama berlandaskan kebenaran dan tidak menceritakan aib seseorang. Banyak hal yang harus disampaikan dengan nalar rasa agar lebih mudah diterima sekaligus menjadi dakwah Islam kontemporer.

Kritik terhadap lirik lagu “Aisyah Istri Rasulullah” sebaiknya dimaknai sebagai fenomena yang lumrah terjadi karena memang semua orang memiliki sudut pandangnya sendiri, namun hal semacam ini tidak boleh membendung kreativitas berkarya seniman, sastrawan, dan musisi. Dakwah Islam yang dibawaan dalam kemasan kesenian dan keindahan jauh lebih mudah diterima daripada dakwah Islam menggunakan jalur ekstrimisme dan radikalisme.

Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia, Koordinator Biro 2 Rayon PMII Al Maturidi


DAFTAR RUJUKAN Asriningsari, A., Umaya, N.M. 2010. Semiotika Teori dan Aplikasi Pada Karya Sastra. (Online). (https://eprints.upgris.ac.id). (diakses 11 April 2020).