oleh Hasan Ismail


Taiwan dipuji dunia internasional karena berhasil meredam penyebaran Virus Corona (COVID-19) secara siginifikan, meskipun diabaikan oleh WHO karena terkait masalah politik antara China dengan Taiwan (Taiwan dianggap bagian dari China melalui one china policy).

Berdasarkan data Worldometers, sampai dengan 17 Mei 2020 Taiwan tercatat hanya memiliki kasus sebanyak 440 dengan hanya 7 kematian dan 389 penderita yang berhasil sembuh. Dengan data ini, negara yang berpenduduk sekitar 24 juta jiwa itu menempati peringkat ke-130 dari daftar negara-negara di dunia yang terjangkit Covid-19. Dari jumlah tersebut, kasus impor menempati jumlah terbayak, yakni sebanyak 349 kasus, diikuti kasus penularan lokal sebanyak 55 kasus dan kasus yang diderita anak buah kapal (ABK) sebanyak 36 kasus.

Padahal jika dilihat dari letak geografisnya, Taiwan hanya berjarak hanya sekitar 130 km dari China dimana penyebaran virus Covid-19 pertama kali ditemukan.

Apa yang mendasari keberhasilan Taiwan dalam menekan penyebaran Virus Corona ini? Paling tidak hal ini dapat kita fokuskan diskusi kita pada 2 unsur, yakni Pemerintah dan warga Taiwan sendiri.

Dari sisi pemerintah, pemerintah Taiwan dapat dikatakan lebih sigap dalam mengantisipasi pandemi Corona. Hal ini didasarkan pada 2 hal. Pertama adalah adanya pengalaman Taiwan sewaktu terjadi kasus mewabahnya SARS pada tahun 2002 dan MERS pada tahun 2012. Situasi politik global yang menempatkan Taiwan belum sepenuhnya diakui sebagai sebuah negara merdeka dan berdaulat menyebabkan posisinya terus dipersulit oleh China maupun negara-negara lain di dunia Internasional secara politik. Namun hal ini justru menyebabkan Taiwan mampu menjadi mandiri dan mengandalkan diri sendiri dalam melawan penyebaran wabah virus Corona.

Kedua, kesiapsiagaan dan tindakan cepat oleh pemerintah Taiwan sejak dini. Pada saat China menginformasikan kepada WHO telah terjadi penyebaran penyakit pneumonia misterius pada tanggal 31 Desember 2019, pada hari yang sama pemerintah Taiwan langsung memerintahkan pemeriksaan terhadap untruk penumpang pesawat dari China, khususnya dari Wuhan, dan menerapkan karantina yang ketat pada penumpang yang terindikasi terjangkit virus.

Selain itu, (meskipun tidak memiliki hubungan baik dengan Beijing) pemerintah Taiwan berhasil mendapat izin untuk mengirimkan tim ahli untuk memeriksa kondisi di Wuhan meskipun banyak hambatan-hambatan yang mereka hadapi. Dan setelah tim ahli ini kembali, pemerintah Taiwan langsung berge3rak cepat dengan memerintahkan rumah sakit untuk melakukan pengujian dan melaporkan kasus-kasus yang terjadi untuk mengidentifikasi siapa yang sudah terinfeksi, melakukan self-isolation dan contact tracking siapa saja yang terlibat kontak dengan penderita untuk mencegah virus menyebar lebih luas.

Pemerintah Taiwan juga segera membentuk Komando Pusat pada 20 Januari 2020, dan mengeluarkan aturan dan implementasi daftar tindakan-tindakan (protokol) untuk melindungi kesehatan publik. Komando pusat ini terus melakukan investigasi kasus positif dan terduga Corona, menyinergikan kerjasama dengan pemerintah lokal untuk mengkoordinasi tindakan kesehatan, termasuk pengalokasian dana, menggerakkan personil, penyebaran informasi yang masif dan melakukan disinfektan lembaga-lembaga pendidikan.

Lima hari setelah pasien pertama virus corona terkonformasi, pada tanggal 26 Januari 2020 Pemerintah Taiwan melarang kedatangan wisatawan dari Wuhan yang selanjutnya diikuti dengan pelarangan kedatangan penumpang dari China. Warga Taiwan yang datang dari daerah-daerah wabah langsung dikarantina selama 14 hari di rumah walaupun tidak sakit. Pemerintah dapat melacak mobilitas penderita melalui ponsel yang menjelaskan posisi mereka dan melakukan sanksi tegas dengan denda yang cukup besar, yakni NTD 300.000 atau setara dengan 150 juta rupiah.

Sebagai contoh, seorang pebisnis Taiwan di Kaohsiung dikenakan sanksi denda sebesar itu karena yang bersangkutan tidak melakukan isolasi diri selama 14 hari dan justru bepergian ke klub dansa meskipun mengalami tanda-tanda infeksi pernafasan sehingga menularkan virus ke pekerja perempuan klub dansa tersebut.

Pemerintah Taiwan juga memastikan ketersediaan masker di dalam negeri dengan melarang pabrik mengekspor masker, mengatur distribusi dan menetapkan harga jual tidak boleh melebihi USD 16 sen. Demikian halnya dengan produk hand sanitizer. Pemerintah juga langsung menggenjot produksi masker maupun hand sanitizer dan mepekerjakan tentara di pabrik-pabrik untuk mendukung produksi.

Penyebaran informasi yang masif juga dilakukan pemerintah Taiwan melalui siaran televisi, radio maupun email untuk melakukan edukasi pada public tentang bagaimana virus menyebar, pentingnya mencuci tangan, menghindari kerumuman dan menggunakan masker.  

Selain dari sisi pemerintah yang melakukan tindakan prefentif yang cepat, factor dari partisipasi warga Taiwan juga sangat mendukung keberhasilan dalam perang melawan pandemic virus Corona.

Masyarakat Taiwan sangat tertib dan patuh terhadap protokol kesehatan. Mereka kompak dan mengikuti arahan dan anjuran dari pemerintah mulai dari pemakaian masker dan sering mencuci tangan mereka. Di tempat kerja, perkantoran, pabrik, rumahsakit, pusat perbelanjaan ataupun di sekolah-sekolah sampai universitas, mereka terlihat kompak mematuhi protokol kesehatan dengan mengatur satu pintu masuk agar setiap orang melewati pengetesan suhu, diberikan penanda, penyediaan hand sanitizer dan sabun cuci tangan di pintu masuk, elevator/lift dan toilet-toilet di gedung-gedung mereka.

Tidak ada warga yang mengeluh karena pembatasan-pembatasan karena mereka sadar itu semua dilakukan demi kesehatan dan keamaan warga sendiri. Setiap orang tidak segan saling mengingatkan dan membantu. Tidak ada yang merasa lebih pintar dari pemerintah sehingga meolak aturan dan protokol kesehatan yang diberlakukan oleh pemerintah.

Dengan kekompokan dua pihak ini, terbukti Taiwan mampu menekan penyebaran Covid-19 meskipun tidak memberlakukan lockdown seperti halnya yang dilakukan beberapa negara. Aktifitas ekonomi tetap berjalan, dan di satu sisi pandemic Covid-19 dapat ditekan serendah-rendahnya.

Tentu kerjasama kedua belah pihak antara pemerintah dan masyarakat juga diperlukan di Indonesia agar Indonesia juga segera berhasil mengatasi pandemi Covid-19. Apalagi berdasarkan data, grafik kasus infeksi masih terus menunjukkan peningkatan. Kondisi wabah tentu sebuah kondisi yang sulit dan tidak menyenangkan bagi kita semua, karena kita tidak bisa bebas melakukan aktifitas seperti halnya saat kondisi normal.

Namun situasi sulit hendaknya tidak menyebabkan kita abai pada protokol kesehatan yang justru akan berdampak pada kesehatan kita sendiri. Khususnya bagi warga, tentu wajib untuk turut serta berpartisipasi melawan pandemi dengan mengikuti dan menerapkan protokol kesehatan secara mandiri untuk mencegah terinfeksi virus. Toh semua aturan yang ditetapkan guna menghindari infeksi virus juga demi keselamatan dan kesehatan warga sendiri. Jika warga abai, lalai dan tidak mematuhi protokol kesehatan yang dapat menyebabkan diri mereka sendiri riskan terinfeksi virus, maka dampaknya tentu warga sendiri yang justru akan rugi dan menderita.  

Hsinchu City-Taiwan, 17 Mei 2020


Penulis adalah Ketua Yayasan Pendidikan PPI Taiwan dan IKAPMII Sunan Kalijaga

sumber foto : https://statik.tempo.co